Cara Membangun Rumah Adat Jawa
06
Jul

Cara Membangun Rumah Adat Jawa

Rumah adat apa yang terdapat di Pulau Jawa? Iya benar sekali rumah adat joglo. Mungkin di jaman sekarang sudah jarang ditemukan rumah joglo. Mungkin peninggalan dari nenek moyang yang masih terdapat rumah joglo. Nah bagi Anda yang ingin membangun dengan nuansa rumah adat terutama adat jawa joglo ini. Berikut adalah beberapa langkah membangun rumah joglo.

Cara membangun rumah adat jawa

– Bahan
Rumah adat Jawa di masa lalu semua bagiannya terbuat dari kayu, baik tiang-tiang utama, balok penyangga atap, lantai, maupun dinding bagian dalam rumah joglo. Untuk tiang-tiang penyangga biasanya terbuat dari kayu jati, sedangkan bagian lainnya terbuat dari kayu sonokeling. Sedangkan penutup atap yang lazim digunakan adalah genteng tanah liat.

Cara membangun atap rumah joglo 
1. Seluruh permukaan tanah dipadatkan agar tidak menurun saat tiang soko guru didirikan. Setelah pondasi diletakkan, kemudian soko guru dipasang dengan jarak yang sama. Setelah soko guru terpasang, tahap selanjutnya adalah memasang konstruksi penyangga atap.
2. Tumpang sari dipasang di atas soko guru. Kemudian kuda-kuda diletakkan di atas ring balok, lalu diikat menggunakan gording.
3. Balok berukuran 5 x 10 cm dipasang diagonal di antara kuda-kuda.
4. Kayu kaso (kasau) dipasang di atas gording. Kemudian reng dipasang di atas kasau. Jarak reng disesuaikan dengan jenis penutup atap yang akan digunakan.
5. Pasang penutup atap.

– Perkiraan biaya
Mengingat seluruh bagian rumah adat Jawa asli terbuat dari kayu, maka diperlukan sekitar 5,7 meter kubik kayu untuk membangun pendoponya saja. Kayu jati hanya digunakan untuk bagian penyangga (soko guru) saja, karena akan sangat berisiko bila seluruh kerangka penyangga atap juga dibuat dari kayu jati. Rincian biaya secara garis besar adalah:
1. Kayu jati per meter kubik Rp 7 juta
2. 5,7 meter kubik kayu sonokeling @ Rp 6 juta = Rp 34, 2 juta
3. Genteng tanah liat @ Rp 1100

3. Bagian rangka atap rumah adat Jawa

  by press profile homify

Tiang-tiang soko guru biasanya lebih tinggi dari tiang-tiang lain di rumah joglo. Pada kedua ujung soko guru biasanya dilengkapi ornamen. Masing-masing soko guru disambungkan oleh balok kayu yang diberi nama tumpang sari dan sunduk. Di atasnya terdapat susunan rangka atap rumah joglo yang kompleks, dengan setiap bagian yang memiliki namanya sendiri. Secara singkat, masing-masing bagian rangka atap rumah joglo dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Molo, balok yang terletak di bagian paling atas dan dianggap sebagai kepala bangunan
2. Pengeret, balok penghubung sekaligus stabilisator antar tiang. ini adalah kerangka atap rumah bagian atas yang melintang sesuai lebar rumah dan dikaitkan dengan blandar
3. Ander, balok di atas pengeret untuk menopang molo
4. Geganja, berfungsi sebagai penguat ander
5. Sunduk, stabilisator tiang yang berfungsi untuk menahan goncangan
6. Kili, balok kayu untuk mengunci tiang dan cathokan sunduk
7. Santen, penyangga yang terletak di antara pengeret dan kili
8. Pamidhangan, rongga yang terbentuk oleh rangkaian balok pada brunjung
9. Dhadha manuk, balok pengeret yang berada di tengah pamidhangan
10. Panitih
11. Penangkur
12. Dudur, balok penghubung sudut persilangan penitih, penanggap, dan penangkur dengan molo
13. Kecer, balok penyangga molo sekaligus penopang atap
14. Emprit ganthil, pengunci purus tiang yang menonjol
15. Elar, ekstensi soko guru bagian atas yang mengarah keluar
16. Songgo uwang, konstruksi penyangga untuk keperluan artistik.